Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1442 H tahun 2021 yang sebulan lagi, Tim distribusi Ekspedisi Qurban Yayasan Dana Sosial Al Falah melakukan survei di beberapa wilayah terpencil sebagai titik distribusi baru hewan kurban. Hasilnya, mereka mendapati belasan daerah di wilayah Situbondo dan Bondowoso tidak pernah ada penyembelihan hewan qurban.

Daerah yang dimaksud di antaranya adalah Dusun Bendusah, Desa Jatisari Kecamatan Arjasa, Situbondo. Warga di dusun yang sering dilanda kekeringan ini mengaku lebih dari 10 tahun tidak pernah merasakan daging qurban. Bahkan mereka lupa kapan terakhir makan daging.

“Tak tahu saya, kapan terakhir makan daging. Di sini sudah lama tak ada orang nyembelih hewan qurban saat hari raya,” kata Ruhani (72) dengan logat Madura, warga RT 01 Dusun Bendusah.

Ahmad Zaki, Kepala RT 01 menuturkan selain lama tidak pernah ada perayaan penyembelihan hewan qurban, wargannya yang terdiri dari 200 jiwa itu juga jarang menerima bantuan. Padahal, menurutnya, mayoritas mereka kondisinya sangat miskin. “Semoga aja ada yang mau qurban di sini. Tolong diusahakan ya, Mas,” harap Zaki saat ditemui Tim Survei Ekspedisi Qurban YDSF.

Kondisi lebih miris dirasakan warga Desa Solor, Kecamatan Cerme, Bondowoso. 11 Dusun di daerah terpencil ini malahan sudah lebih dari 20 tahun tidak ada penyembelihan hewan qurban. Pun kiriman daging qurban dari daerah lain.

“Saya lupa kapan ada penyembelihan. Kami bisa makan daging kalau ada tetangga yang aqiqahan,” kata Waginah (37), warga Dusun Tolabeng.

Koordinator Tim Survei Ekspedisi Qurban YDSF, Pugut Ranto Priono Sandi mengatakan kegiatan survei itu dilakukan dalam usaha menemukan titik-titik baru distribusi hewan qurban. Agar persebaran hewan qurban lebih merata dan tidak menumpuk di kota.

“Selama beberapa hari ini kami keliling ke beberapa daerah terpencil timur Jawa Timur. Dan hasilnya ternyata banyak sekali titik-titik yang tidak pernah mendapatkan atau menyembelih hewan qurban,” kata Pugut.

Pugut menjelaskan, hingga saat ini timnya masih disebar ke beberapa daerah lain untuk mendapatkan lokasi baru penyembelihan. Dia berharap, semakin banyak daerah miskin yang terdata, maka akan semakin mudah pula pendistribusian hewan qurban hingga ke pelosok desa.

Dari data yang dihimpun, lanjut Pugut, nantinya akan langsung ditawarkan kepada para mudahi (pequrban) sebagai titik salur hewan qurban.

” Tahun ini kami target bisa menghimpun 2500 hewan qurban. Semoga tahun ini kami bisa melampaui target itu sehingga bisa lebih banyak lagi masyarakat di pelosok yang merasakan manfaatnya,” harap Pugut. Hasilnya, mereka mendapati belasan daerah di wilayah Situbondo dan Bondowoso tidak pernah ada penyembelihan hewan qurban.

Daerah yang dimaksud di antaranya adalah Dusun Bendusah, Desa Jatisari Kecamatan Arjasa, Situbondo. Warga di dusun yang sering dilanda kekeringan ini mengaku lebih dari 10 tahun tidak pernah merasakan daging qurban. Bahkan mereka lupa kapan terakhir makan daging.

“Tak tahu saya, kapan terakhir makan daging. Di sini sudah lama tak ada orang nyembelih hewan qurban saat hari raya,” kata Ruhani (72) dengan logat Madura, warga RT 01 Dusun Bendusah.

Ahmad Zaki, Kepala RT 01 menuturkan selain lama tidak pernah ada perayaan penyembelihan hewan qurban, wargannya yang terdiri dari 200 jiwa itu juga jarang menerima bantuan. Padahal, menurutnya, mayoritas mereka kondisinya sangat miskin. “Semoga aja ada yang mau qurban di sini. Tolong diusahakan ya, Mas,” harap Zaki saat ditemui Tim Survei Ekspedisi Qurban YDSF.

Kondisi lebih miris dirasakan warga Desa Solor, Kecamatan Cerme, Bondowoso. 11 Dusun di daerah terpencil ini malahan sudah lebih dari 20 tahun tidak ada penyembelihan hewan qurban. Pun kiriman daging qurban dari daerah lain.

“Saya lupa kapan ada penyembelihan. Kami bisa makan daging kalau ada tetangga yang aqiqahan,” kata Waginah (37), warga Dusun Tolabeng.

Koordinator Tim Survei Ekspedisi Qurban YDSF, Pugut Ranto Priono Sandi mengatakan kegiatan survei itu dilakukan dalam usaha menemukan titik-titik baru distribusi hewan qurban. Agar persebaran hewan qurban lebih merata dan tidak menumpuk di kota.

“Selama beberapa hari ini kami keliling ke beberapa daerah terpencil timur Jawa Timur. Dan hasilnya ternyata banyak sekali titik-titik yang tidak pernah mendapatkan atau menyembelih hewan qurban,” kata Pugut.

Pugut menjelaskan, hingga saat ini timnya masih disebar ke beberapa daerah lain untuk mendapatkan lokasi baru penyembelihan. Dia berharap, semakin banyak daerah miskin yang terdata, maka akan semakin mudah pula pendistribusian hewan qurban hingga ke pelosok desa.

Dari data yang dihimpun, lanjut Pugut, nantinya akan langsung ditawarkan kepada para mudahi (pequrban) sebagai titik salur hewan qurban.

” Tahun ini kami target bisa menghimpun 2500 hewan qurban. Semoga tahun ini kami bisa melampaui target itu sehingga bisa lebih banyak lagi masyarakat di pelosok yang merasakan manfaatnya,” harap Pugut.

 128 total views,  1 views today

Comments

comments