Nanik Krisianti berjalan cepat ke belakang pabrik. Berbincang dengan karyawannya, sesekali berhenti untuk memeriksa kerupuk mentah yang baru dijemur.

“Mumpung masih ada matahari,” kata perempuan yang sekarang berusia 73 tahun ini. Dengan cekatan ia menghampiri anak buahnya. Kali ini memeriksa kerupuk yang sudah digoreng, dan berbincang entah tentang apa.

Nanik adalah pemilik ‘Kerupuk Klenteng Rasa Asli’, salah satu produk khas Bojonegoro. Cita rasa yang ditawarkan terbilang unik. Karena seperti diakui Nanik, hingga kini, kerupuk buatan pabriknya masih mengandalkan resep sang pendiri, Tan Tjian Liem, yang memperkenalkan kerupuk abang-ijo ini sejak 1929.

“Kalau musim kemarau seperti ini bisa menjual satu kwintal kerupuk. Paling apes ya 50 kilogram. Kalau pas hari istimewa seperti Idul Adha bisa lebih,” jelas pengusaha generasi ke-tiga Kerupuk Klenteng ini.

Saat Idul Adha, banyak pembeli datang untuk belanja krupuk. Makanan renyah berwarna-warni ini nanti akan jadi teman bumbu sate kambing di sejumlah acara khusus. “Satu kilogram kerupuk saya jual Rp 27 ribu,” tegasnya.

Pembeli yang datang di pabriknya rata-rata datang dari Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Surabaya, dan masih banyak lagi. “Saya nggak hapal,” katanya pendek.

Pabrik kerupuk ini adalah bangunan lawas di Jl Jaksa Agung Suprapto 132, Bojonegoro. Begitu parkir, kita akan melihat print out sertifikasi standar kesehatan, halal, dan sejumlah disclaimer lainnya.

Seperti sertifikat pengujiandari Unit Layanan Pengujian Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya. Lalu sertifikat dari PT Superintending Company of Indonesia (Persero), atau populer dengan nama SUCOFINDO, sebuah BUMN Indonesia yang bergerak dalam bidang pemeriksaan, pengawasan, pengujian, dan pengkajian.

Dengan bekal ini, tak heran jika pabrik kerupuk ini berani mengatakan jika mereka bebas dari bahan kimia tambahan, bakteri berbahaya, dan zat-zat terlarang.

“Kami mulai memproduksi sejak pagi. Sekitar jam tujuh,” kata Nanik. Sehari-hari, awak Kerupuk Klenteng mesti menyiapkan adonan, mengolahnya jadi krupuk mentah cetakan, mengkukus, menjemur, hingga menggoreng.

Nanik sendiri kebagian tugas melayani pembeli. Sementara Anton, anaknya, generasi ke-4 pengusaha Kerupuk Kelenteng, fokus pada pengembangan bisnis.

Lewat Anton, produksi kerupuk tradisional ini dikembangkan dalam kemasan dan branding yang jauh lebih modern. Semisal dengan pembuatan logo, plastik untuk wadah kerupuk, jenis-jenis kerupuk, bahkan penggunaan internet untuk promosi.

Anton juga terbuka pada peluang dan trend. Semisal, ia membuka perusahaannya untuk komunitas yang datang buat memotret atau jalan-jalan.

Semangat kearifan lokal tumbuh dan mengakar di bisnis ini. Semisal, penggunaan nama ‘abang-ijo’, masih melekat di merek yang dibawa. Di sisi lain, Kerupuk Klenteng juga tetap patuh menggunakan standar kesehatan.

“Untuk zat pewarna tetap ikut aturan. Kami pakai pewarna kue. Menggoreng juga tidak menggunakan minyak yang sudah menghitam. Jadi anak-anak tidak batuk,” jelas Nanik.

Nama klenteng digunakan tentu karena alasan, rumah usaha mereka terletak tidak jauh dari Klenteng Hok Swie Bio, tempat ibadah Tri Darma. Saking dekatnya, di narasi yang tertulis di salah satu sudut pabrik ditulis, “Berjarak sepelemparan batu ke arah timur dari Klenteng TITD Hok Swie Bio, Bojonegoro”. (naskah dan foto : hendro d. laksono)

4,691 total views, 178 views today

Comments

comments