Matahari baru saja menapaki pagi. Di Taman Bungkul, Surabaya, sebagian besar warung yang berjajar masih tutup. Pemiliknya masih sibuk membersihkan meja dan kursi. Tapi di Makam Ki Ageng Bungkul, sejumlah orang mulai berdatangan.

Mereka rata-rata datang dari luar Surabaya. Dari Lamongan, Jember, hingga Ngawi. “Mau mengirim doa,” kata mereka.

Makam ini terletak di sudut belakang taman yang terletak di Jalan Raya Darmo, Surabaya. Taman berluas kurang lebih 900 meter persegi ini dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya.

Bagi ibu kota provinsi Jawa Timur ini, Taman Bungkul adalah kebanggaan. Karena sejak diresmikan pada 21 Maret 2007, Taman Bungkul tumbuh menjadi ikon wisata yang didukung banyak sarana penunjang. Seperti skateboard dan BMX track, jogging track, panggung untuk live performance, dan masih banyak lagi.

Taman Bungkul pernah mengantar Surabaya meraih penghargaan The 2013 Asian Townscape Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagai taman terbaik se-Asia pada tahun 2013.

Nama taman ini diambil dari Sunan Bungkul yang memiliki nama asli Ki Ageng Supa atau Mpu Supa. Sebuah catatan menyebut jika ia adalah bangsawan dari jaman Kerajaan Majapahit yang sudah memeluk agama Islam. Sejak saat itu ia mengganti namanya dengan Ki Ageng Mahmuddin.

Tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa ini hidup pada 1400-1481 Masehi. Ia memiliki puteri bernama Dewi Wardah. Karena sangat menyayangi Dewi Wardah, Mpu Supa membuat sayembara. Ia mengatakan, barangsiapa laki-laki yang dapat memetik delima yang tumbuh di kebunnya akan dijodohkan dengan Dewi Wardah.

Dari begitu banyak laki-laki yang mencoba sayembara, hanya Raden Paku atau Sunan Giri yang berhasil. Itu pun tak sengaja. Karena saat melewati pekarangan Ki Supo, di bawah pohon delima, tiba-tiba ada buah yang jatuh di depannya.

Merasa tidak memiliki hak atas buah ini, Raden Paku menyerahkan buah itu kepada Sunan Ampel yang juga gurunya. Pada Raden Paku, Sunan Ampel berkata, “Berbahagialah engkau. Karena engkau akan menjadi menantu Ki Ageng Supa”.

Raden Paku kebingungan. Karena sebentar lagi ia akan menikah dengan putri Sunan Ampel, setelah sebelumnya sudah mendapat ijin dari anggota wali sembilan itu.

Lalu Sunan Ampel pun menjelaskan, jika sudah takdir jika Raden Paku nantinya memiliki dua istri. Yakni Dewi Murtosiah, puteri Sunan Ampel, dan Dewi Wardah, putri Ki Ageng Supa. (naskah dan foto : hendro d. laksono)

1,795 total views, 29 views today

Comments

comments