Suara bel berbunyi. Dalam hitungan detik, anak-anak Panti Asuhan Anak Yatim Piatu Undaan, Surabaya, langsung berlari menuju ruang makan. Maklum, bagi sebagian anak, ini jadi momen yang paling ditunggu.

Dengan lahap mereka menikmati makanan yang sudah disediakan oleh pengurus. Tanpa bicara, apalagi protes. Karena mereka paham, bisa makan adalah sesuatu hal yang patut disyukuri.

Panti Asuhan Undaan relatif selalu sepi. Bahkan di halaman panti yang sebenarnya cukup luas. Kesan tertutup ini juga diakui warga sekitar.

“Pengurusnya tidak pernah keluar panti. Ke RT atau RW kalau ada perlu saja. Selebihnya ya tertutup. Anak-anak panti juga tidak pernah bermain di halaman. Mereka keluar hanya saat sekolah, setelah pulang ya masuk lagi,” jelas I Nyoman Teguh Himawan, warga sekitar panti.

Masih menurut Teguh, dari pantauannya, 99 persen warga panti adalah anak-anak Tionghoa.

“Lalu kebanyakan yang memberi sumbangan juga hanya orang Tionghoa saja. Meskipun tempatnya besar dan luas, tapi penghuninya sedikit. Kurang lebih 20-30 orang,” katanya.

Meski terkesan tertutup, akunya, keberadaan panti yang berlokasi di Jl Undaan Kulon 9-15, Surabaya ini bukan lantas jadi masalah. Karena sejauh ini tidak pernah ada masalah. Bahkan warga, dengan sukarela ikut menjaga keamanan panti.

Apalagi, kata Teguh, anak-anak di panti ini kebanyakan anak di bawah SMA. “Kalau sudah dewasa gak tau kemana anaknya. Tiba-tiba hilang, dan ada anak baru lagi,” akunya.

Selain mengandalkan bantuan, panti ini juga hidup secara swadaya. Buktinya, setiap satu atau dua bulan sekali, pengurus panti menjual barang bekas anak-anak di depan panti.

Apapun, Panti Asuhan Anak Yatim Piatu Undaan memang menarik perhatian. Selain bentuk bangunannya, gedung ini ternyata juga memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang.

Berdasar dokumen Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV, dalam Bahasa Indonesia Lembaga Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi Kerajaan Belanda), sebuah lembaga yang didirikan pada tahun 1851, bangunan ini dulunya milik Woonhuis van J.F. Polack, dan sudah berdiri pada 1885.

Saat itu, bangunan ini berfungsi sebagai kediaman Keluarga Polack, keluarga Belanda. Lalu tahun 1932, rumah ini dibeli opsir Tionghoa yang mendapat dukungan dana dari sejumlah dermawan Tionghoa lainnya.

Si pembeli, Mayor The Toan Ing bersama Mayor Han Tjion Khing, kemudian mendirikan Panti Asuhan Thay Tong Bon Yan di rumah keluarga Polack ini. Mayor Han Tjiong merupakan Mayor Tionghoa terakhir di Surabaya yang kemudian mengundurkan diri pada tahun 1924. Mayor Han Tjiong Khing memiliki seorang istri bernama The Gwat Bio.

Sedangkan Mayor The Boen Khe adalah seorang tokoh Tionghoa yang disegani, yang pernah memberikan bantuan sebidang tanah di Kapasan seluas 500 meter persegi, dan kemudian digunakan untuk membangun Klenteng Boen Tjiang Soe. Saat berubah menjadi tempat ibadah Khonghucu, bangunan ini berganti nama jadi Klenteng Boen Bio.(naskah dan foto : yhola putri/himmarfi)

3,419 total views, 1 views today

Comments

comments