Memasuki tahun pelasanaan ke-10, Tour de Singkarak (TdS), ajang balap sepeda bertaraf internasional di Provinsi Sumatera Barat, diakui oleh Amouri Sport Organization (ASO) dan Union Cycliste Internationale (UCI) sebagai event balap sepeda dengan jumlah penonton terbanyak peringkat ke-5 di dunia.

“Sport tourism merupakan cara yang paling mudah dan murah untuk mempromosikan suatu daerah. Media value-nya sangat tinggi, rugi sekali kalo kabupaten/kota yang dilintasi tidak mempromosikan daerahnya,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Menpar Arief tidak meragukan lagi keindahan alam dan budaya di Sumbar. Ia menyebut Sumbar memiliki 132 event dalam satu tahun, diantaranya ada tiga event yang masuk dalam Top 100 Calender of Event (CoE) Nasional seperti Sawahlunto International Music Festival, TDS 2018, dan Festival Pesona Budaya Pagaruyung.

“Sumbar itu top semuanya. Dari kuliner, Sumbar punya rendang yang ditetapkan Kemenpar sebagai national food dan dipromosikan di 100 restaurant Indonesia yang ada di seluruh dunia,” ujar Menpar Arief Yahya dalam Launching Tour de Singkarak (TdS) 2018 bersama Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya di di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, Senin sore (22/10).

Tidak hanya kuliner, Sumbar memiliki destinasi untuk selancar (surfing) kelas dunia di Mentawai. Lalu yang ketiga adalah Geopark Ngarai Sianok yang menjadi salah satu yang terbaik di dunia. “Tiga-tiganya itu kelas dunia, untuk itu penyelengaraan TdS menjadi sarana efektif mempromosikan pariwisata di Sumbar,” ujar Menpar Arief Yahya.

Tour de Singkarak yang memadukan antara promosi pariwisata dan olahraga secara atraktif ini dimulai tahun 2009 untuk pemulihan pariwisata pasca-gempa Padang ketika itu. Menurut Wakil Gubernur (Wagub) Sumbar Nasrul Abit dTdS menjadi andalan untuk kemajuan wisata Sumbar. Penyelenggaraan event sport tourism TdS memberikan dampak langsung pada ekonomi masyarakat (direct impact economic tourism) serta media value yang tinggi dan memberi pengaruh positif terhadap promosi pariwisata Sumbar.

“TdS menjadi event andalan dalam mendorong kemajuan pariwisata Sumbar. Sebagai indikatornya bila tahun 2016 jumlah penerbangan ke Bandara Minangkabau (BIM) sebanyak 52 kali, sekarang melonjak menjadi 114 kali. Tahun ini ada 3 kali penerbangan dari Malaysia dan tahun depan meningkat menjadi 4 kali,” kata Nasrul Abit.

Selain promosi pariwisata, pengembangan destinasi yang akan dikembangkan untuk Sumbar adalah mewujudkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Sumbar yang ada yaitu KEK Mandeh yang memasuki tahap konsultasi publik analisis dampak lingkungan (Amdal) dan KEK Mentawai. “KEK Mandeh di Kabupaten Pesisir Selatan Sumbar akan menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata dengan menonjolkan keindahan wisata bahari. Kami beri nama KEK Mandeh ini sebagai ‘Raja Ampat’-nya Sumbar,” kata Menpar Arief Yahya.

Berhadiah Rp 2,3 Miliar

Ajang balap sepeda bertaraf internasional TdS 2018 berlangsung mulai tanggal 4 hingga 11 November 2018 dengan hadiah total Rp 2,3 miliar ini akan diikuti 15 tim dari mancanegara dan 5 tim nasional. Para peserta akan unjuk kekuatan dengan melintasi 16 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumbar sepanjang 1.267 Km yang dimulai (start) dari Kota Bukittinggi dan berakhir di Kota Pariaman.

TdS 2018 yang memasuki tahun ke-10 dengan mengangkat tema ‘One Decade for All’ ini merupakan satu dari tiga event di antaranya TdS 2018, Festival Pagaruyung, dan Sawahlunto International Music Festival, yang masuk dalam Calender of Event (WoE) Wonderful Indonesia. Sedangkan pada CoE Sumbar, sebanyak 32 event digelar sepanjang tahun ini.

Pariwisata Sumbar didukung 3A (Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas) yang memadai. Sumbar memiliki atraksi (man-made) antara lain Pacu Jawi, Pacu Itiak, Tabuik, Pacu Kuda, Lomba Layang-Layang, Pacu Biduak, dan TdS. Sedangkan atraksi alam antara lain Danau Meninjau, Pulau Pagang, Pulau Mandeh, Bukit Tinggi, dan Pulau Mentawai sebagai destinasi surfing kelas dunia. (sp/danny setyawan | foto : istimewa)

3,863 total views, 2 views today

Comments

comments