Strategi Bertahan Batik Jetis Sidoarjo

Strategi Bertahan Batik Jetis Sidoarjo

Meski jumlah pengunjungnya tak seramai dulu, Kampung Batik Jetis tak pernah kehilangan pelanggan tetapnya. Setiap hari, pembeli terus datang ke kampung yang terletak di Jl. P. Diponegoro, Lemahputro, Sidoarjo, Jawa Timur ini. Maklum, bagi pelanggan setianya, hanya Kampung Batik Jetis yang mampu memberi produk sesuai kualitas yang diharapkan.

Penamaan kampung ini, tak lepas dari mayoritas warganya yang hingga kini aktif menjadi perajin batik tulis. Lihat saja, mulai dari gapura depan hingga sepanjang jalan kampung, dengan mudah kita bisa menemui toko atau gerai yang menjual kain batik. Tak hanya itu, kita juga bisa menemui showroom untuk belajar membatik.

Salah satu toko di kampung ini adalah Toko Amri Jaya. Toko ini dikenal sebagai penyedia kain batik berkualitas khas Jetis. Selain menjual dalam bentuk lembaran, toko ini juga menjual busana siap pakai, termasuk busana muslim seperti gamis atau kaftan. Di luar itu, Amri Jaya juga menyiapkan showroom bagi masyarakat yang ingin menambah pengetahuan mengenai batik.

Seperti diakui pemilik toko ini, pengusaha atau perajin Batik Jetis Sidoarjo banyak yang mengembangkan usahanya secara turun temurun. Selain dinilai cukup menjanjikan dari sisi bisnis, mereka rata-rata meyakini bahwa Batik Jetis merupakan warisan leluhur Sidoarjo yang wajib dipertahankan.

H. Muhammad Amri Zaenal Arifin, 53 tahun, merupakan generasi kedua yang meneruskan usaha toko batik. Sejak kelas 4 SD, ia menekuni batik untuk membantu orangtua. Dengan tekun, ia mengerjakan tugas-tugas yang ringan. Seiring waktu, saat dinilai mumpuni di bidang ini, ia mulai fokus ke dunia batik.

Perjalanan panjang Amri membuat kiprahnya cukup diakui di Kampung Jetis. Sehingga pada tahun 1985, Amri mulai berani membuka toko batik dengan nama Amri Jaya. Generasi pertama diusung oleh ibunya, Hajjah Mariam Abdul Muim dengan merk Amri. Di Kampung Batik Jetis, ada empat perajin yang merupakan keturunan Mariam.

“Ada perbedaan antara Batik Jetis dengan batik lainnya. Baik itu dari segi motif dan pewarnaan,” jelas Amri Zaenal. Menurutnya, Batik Jetis masih mengutamakan orisinalitas batik tulis. Terlihat dari tidak adanya printing dan kombinasi apapun. Untuk warnanya pun, perajin punya kelebihan sendiri namun arahnya sama.

Sebelum batik diklaim Malaysia, konsumen batik di Sidorajo adalah masyarakat Madura. Masyarakat Sidoarjo sendiri masih risih, tidak mau memakai batik karena identik dengan orangtua. Seiring perkembangan waktu, tahun 2008, sejak adanya pengakuan Malaysia akan batik, banyak yang mulai menggunakan batik.

Pemerintah Indonesia pun mulai mengaktifkan kembali batik-batik di Indonesia, seperti di setiap kabupaten yang tidak memiliki batik diberikan fasilitas. Hanya saja sekarang tinggal menunggu kualitas produk saja yang bisa bersaing di pasaran. “Kalau kualitas dan desain bagus, warna-warna yang up to date, batik akan digemari oleh masyarakat,” kata Amri sambil tersenyum.

Motif dari Batik Jetis, 67 persen diantaranya masih menggunakan motif klasik. Motif ini sudah ada sejak jaman pendudukan Belanda. Sehingga orang jaman sekarang hanya menambahkan variasi di beberapa tempat.

Kini, kata Amri, banyak perajin memiliki kelebihan mendesain. Namun hanya 4-5 UKM saja yang bisa mendesain pola. Produksinya pun juga mengikuti pasar, kalau yang tidak memiliki showroom di sini, perajin jetis mempunyai distributor di Surabaya. Seperti di Pabean, Ampel, dan Pasar Turi sebelum terbakar.

Layaknya usaha yang kadang maju kadanf terpuruk, Amri mengaku, ia pernah berencana gulung tikar. Memproduksi batik seadanya, dan banting setir ke produksi sepatu dan busana muslim. “Waktu itu pegawai saya tersisa 5 orang. Alhamdulilah, saat ini pasar membaik. Usaha saya bisa berkembang, ada empat showroom,” paparnya.

Selain membuka toko batik, pria kelahiran 1963 ini mempunyai workshop. “Workshop sendiri sudah sejak tahun 2010, showroom saya tahun 1995, 2005,” ujar Amri. Peminat workshop miliknya pun beragam. Mulai dari anak TK sampai perguruan tinggi bahkan ibu-ibu rumah tangga. Orang asing pun pernah mengunjungi workshopnya. “Mereka jauh lebih antusias daripada orang Indonesia sendiri,” katanya. (gabrelia diah lupi, lady natalie vernanda)

Comments

comments

Share:

ARTIKEL PILIHAN LAINNYA

Menuai Kesabaran dari Kue Keranjang
Cita Rasa Nusantara dari Bukit Menoreh
Melukis Bersama Maestro di Candi Prambanan