Sebagai bagian dari masyarakat global, kita terus dipacu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Baik perubahan gaya hidup, konsumsi, perilaku ekonomi, dan masih banyak lagi. “Ada pergeseran perniagaan. Ada pergeseran perdagangan dari dunia offline menuju dunia online,” tegas Presiden Joko Widodo dalam Economic Talkshow ‘Ekonomi Baru di Era Digital’, sekaligus peresmian pembukaan Indonesia Business and Development Expo di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC) di Jakarta, Rabu (20/9).

Di depan forum yang dihadiri para Menteri Kabinet Kerja, Ketua OJK, Ketua Umum Himbara, Direksi BUMN, CEO, dan para pengusaha muda itu presiden mengakui, ia merasa perlu untuk terus mengulang fenomena perubahan global yang terjadi begitu cepat. “Kenapa saya ulang-ulang? Supaya kita semuanya sadar bahwa perubahan itu dari detik ke detik, dari menit ke menit selalu ada,” jelasnya.

Presiden juga memaparkan, bagaimana dengan cepatnya, kita disuguhi Tesla, mobil fantastik masa depan, lalu Hyperloop yang mampu memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain dengan begitu sangat cepat. Kemudian Space X yang mampu mengelola ruang angkasa untuk kepentingan manusia di masa mendatang.

“Hal yang berkaitan dengan pembayaran, kita mengenal Paypal dan Alipay. Inilah yang kita hadapi. Ada perubahan-perubahan gaya hidup, konsumsi, konsumen di ekonomi digital ini,” kata Presiden Jokowi.

Gagasan e-commerce, lanjutnya, merupakan pergeseran perniagaan dari offline menuju online. Teknologi ini memungkinkan orang yang enggan datang atau antre di toko, bisa tetap belanja dengan cukup menggunakan smartphone, membuka aplikasi, lalu melakukan pembayaran.

“Saya sering cerita, sekarang saya pesan gado-gado enggak usah datang ke warung. Saya minta Go-Food, 30 menit datang. Beli sate enggak usah datang ke warung. Minta Gofood, 30 menit paling lama satu jam, satenya datang,” ujar Presiden sambil tersenyum.

Media Sosial dan Konsumsi Experience

Memasuki era media sosial, lanjut Jokowi, kita diajak untuk bergeser dari perilaku konsumen barang ke konsumsi pengalaman. Lihat saja, orang sangat suka posting di Facebook, Instagram, atau twitter.

“Saya kadang-kadang juga pengin, pasang foto yang aneh-aneh gitu. Tapi nanti ada yang bilang, Presiden narsis. Jadi saya batasi. Memang Presiden ada batasan-batasan, itu yang saya enggak senang,” kata Jokowi.

“Kalau video-video singkat yang lucu masih bisa dikeluarkan. Tapi, misalnya kayak foto saat saya mengundang artis dan penyanyi ke istana. Saat itu, saya enggak ngambil. Ada orang lain ngambil. Saya pas ngomong di sini, di sini ada Raisa, dia memandang saya,” candanya disambut tawa peserta forum.

Pergeseran perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi barang ditentukan banyak hal. Kini orang tidak terlalu tertarik pada barang-barang branded. Presiden membuat analogi, bagaimana anak muda sekarang suka mengatakan, “Beli barang branded, beli barang yang bermerek, sudah kuno. Tapi sekarang yang diincar orang adalah kenang-kenangan, memori, pengalaman-pengalaman itu yang dikeluarkan. Kemudian dipasang untuk selama-lamanya di Facebook, dipasang di Instagram, dikeluarkan di youtube”.

Yang ketiga, Presiden juga mengingatkan tentang sharing ekonomi. Sebuah revolusi pada sisi suplai atau sisi ketersediaan. Ini juga harus dilihat, apakah ada pergeseran, apakah ada perubahan. “Dulu, dulu, orang harus beli mobil. Sekarang tinggal pesan di smartphone, datanglah mobil on demand, pakai Go Car silakan, pakai Grab Car silahkan, pakai Uber silakan,” tukasnya.

Dulu orang harus beli rumah, ini negara lain sudah mulai banyak, orang harus beli rumah. Sekarang tinggal lihat-lihat, lihat-lihat di aplikasi. Bisa sewa kamar atau bahkan sewa rumah tapi hanya untuk satu hari, untuk dua hari, atau untuk satu minggu, atau untuk satu bulan. Pakai AirBnB, pakai Expedia.

Dulu orang harus punya kantor. Karena orang yang dulu-dulu yang masih jadul-jadul senangnya fix aset. Tapi anak-anak sekarang senangnya light aset. Tidak usah bikin kantor. Kalau orang dulu senangnya bikin kantor yang gede, sekarang pakai aplikasi bisa sewa co working space seperti WeWork.

“Kita harus hati-hati akan ada perubahan bukan hanya pola konsumsi, tapi juga pola kerja. Ini akan berubah semuanya. Dan pada pola produksi akan ada perubahan. Dampak dari semua ini tentunya bukan hanya sisi konsumsi, tapi juga sisi produksi. Hati-hati. Pengusaha hati-hati, yang ingin memulai berusaha juga hati-hati. Ini ada peluang tetapi juga ada ancaman,” ingat Jokowi.

Banyak orang yang bekerja dalam ekonomi digital. Kerjanya sangat fleksibel, sangat dinamis. Orang-orang yang menjadi supir Gojek, supir Grab, supir Uber. Orang-orang yang menyewakan satu kamar di rumahnya ke turis melalui AirBnB atau Expedia, orang-orang seperti ini mereka seringkali kerjaan utamanya bukan jadi supir atau punya hotel. Jadi supir atau menyewakan kamar menjadi sampingan yang mengisi waktu. Atau menguangkan sarana yang nganggur, misalnya, kamar yang biasanya kosong sekarang bisa disewakan ke orang untuk satu hari atau dua hari. Semuanya nanti akan efisien, efisien, efisien, efisien seperti itu.

Ini nantinya akan berdampak pada struktur pengeluaran atau spending, atau belanja. Perubahan-perubahan seperti ini yang kalau tidak dicermati dengan teliti, kita bisa kecewa atau terkaget-kaget.

Produsen harus hati-hati mencermati, teliti melihat pola pergeseran ini menuju ke mana. Sekali lagi, akan punya dampak yang dahsyat pada sisi produksi. Sekarang sudah hampir tidak ada yang namanya toko DVD, semua video beralih ke steraming lewat internet. Toko buku pun juga semakin dikit. Toko kamera juga semakin sedikit karena kita ngambil foto pakai HP.

Munculnya pertumbuhan yang tinggi di segmen-segmen tertentu pada sisi produksi, nantinya akan jadi peluang. Cafe dan restoran semakin semarak, tempat para anak-anak muda millenial nongkrong, tempat orang foto bersama rame-rame, tempat fitness juga semakin semarak karena sekarang anak muda kita, orang-orang juga senang mempunyai badan yang keren.

Travel dan pariwisata mengalami pertumbuhan yang dahsyat dan akan semakin cepat. Sektor pariwisata tumbuh 10-15 persen per tahun di saat ekonomi kita tumbuh 5 persen per tahun. Orang mencari pengalaman yang seru, orang mencari tempat-tempat wisata yang khas dan asik biar bisa pasang foto-foto dan video-video dari tempat yang kita datangi.

Lantas strategi pemerintah seperti apa? Pertama, kata Presiden, keleluasaan untuk eksperimentasi harus diberikan kepada seluruh masyarakat. Karena inovasi itu memerlukan eksperimen. Hal-hal yang baru ini harus dicoba dan ini memerlukan cost, memerlukan biaya.

“Berarti apa? Berarti startup jangan dicekik dengan regulasi-regulasi yang berlebihan. Jangan malah terlalu diatur-atur, inovasinya malah enggak muncul. Ini kita ini, negara kita ini terlalu banyak aturan, terlalu banyak regulasi, menyebabkan kita terjerat aturan sendiri,” jelas Presiden. (hdl)

76 total views, 2 views today

Comments

comments