Menjaga Udara Kota dengan Urban Farming

Beberapa hari setelah kebun sayur hidroponiknya berdiri, ada tetangga yang datang menemui Kemas Abdul Rachman. “Pak terima kasih sekali. Saya pikir, tanah ini mau dipakai properti, rumah atau ruko. Ternyata buat kebun sayur,” kata si tetangga.

“Lho, mengapa?” Kemas balik bertanya. Tetangga ini kemudian menjelaskan, setelah Jl Ir Soekarno atau Midle East Ring Road (MERR) aktif, kawasan di sisi kiri dan kanan jalan ini jadi lahan properti yang terus berkembang. “Dia takut, kawasan ini akan kehilangan tanah serapan dan penyuplai udara bersih. Dulunya tempat ini alang-alang,” jelas Kemas sambil tersenyum.

Pada IndonesiaImages, pria berusi 42 tahun ini kemudian bercerita, dulu ia sempat bingung mau menjadikan lahan ini sebagai tempat apa. Sampai suatu saat, ia bertemu dengan kenalan yang bercerita tentang konsep urban farming. Mulai dari pengembangan tanaman hidroponik maupun organik, marketing, hingga dampak postif bagi sosial dan lingkungan.

“Setahun lalu, kami mulai merintis. Ya, saya memilih jalur itu bukan tanpa alasan. Walau lebih lambat dari sisi bisnis, setidaknya saya dan kawan-kawan yang aktif di bidang ini turut berkontribusi untuk menjaga kualitas udara kota,” terangnya,

Menurut sarjana ekonomi sebuah perguruan tinggi di Surabaya ini, konsep dasar ‘Kebun Sayur’, brand yang ia buat bersama teman-temannya sederhana saja. Orang selama ini harus beli sayur ke pasar. Sementara kebutuhan bisa datang kapan saja. Dan jumlahnya juga tak selalu banyak. “Orang beli sayur beberapa ikat, dipakai sebagian. Selebihnya masuk kulkas, lalu busuk sia-sia,” kata Kemas.

Dengan Kebun Sayur, orang bisa belanja sesuai kebutuhan tanpa batasan. Kalaupun mau disimpan, kualitas sayur hidroponik dan organik relatif lebih tahan lama. “Apalagi sayur hidroponik. Karena sayur ini dijual tidak dalam kondisi dipotong atau dikotori tanah. Sayur hidroponik selalu dijual bersama akar. Di situ kelihatan, tanpa tanah, sehingga bersih,” paparnya.

Sayur hidroponik, jelas Kemas, secara umum dipahami sebagai sayuran yang ditanam tanpa medium tanah, tapi air. Hanya saja, ada beberapa hal bersifat teknis yang perlu diperhatikan. Seperti aliran air, pupuk, cahaya matahari, antisipasi hujan, dan lain-lain.

Siapkan Cafe Tradisional
Luas lahan yang dimiliki Kemas di Penjaringan Asri, Surabaya, mencapai 1400 meter persegi (m2). Hingga kini, lahan yang digunakan untuk area kebun, persemaian, dan kantor masih 900 m2. Kemas mengaku, ia ingin mengembangkan cafe berkonsep tradisional di lahan yang tersisa. Tentu saja, sebagian menu bersumber dari sayur dan buah kebun miliknya.

Kebun Sayur sendiri terbagi menjadi tiga tempat. Di Surabaya ada di Jl Raya Ketintang Selatan dan Jl Penjaringan Asri. Sedangkan yang di Sidoarjo ada di daerah Wage. Kebun ini terbuka untuk umum, mulai pukul 07.00-10.00 WiB dan 15.00-17.00 WiB.

Sejak awal berdiri Kebun Sayur Surabaya diposisikan sebagai unit usaha yang bergerak di bidang hortikultura tengah Kota Surabaya. Kebun ini terus memproduksi beberapa jenis sayur western dan oriental, terutama sayuran yang banyak digunakan dalam menu salad dan lalapan. Untuk proses produksi, Kebun Sayur menggunakan sistem hidroponik dengan metode Nutrient Film Technique (NFT).

Dengan NFT, kualitas sayur bisa lebih bersih karena tidak berhubungan langsung dengan tanah. Lalu sehat dan segar, aman pestisida, penggunaan air yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan tahan lama untuk di simpan meski tanpa bahan pengawet.

Untuk produk sayur western, Kebun Sayur menyediakan endive, batavia, iceberg, romaine, red leaf lettuce, hingga red oak lettuce. Sementara sayur orientalnya meliputi kangkung, kale, dan edamame. Di luar itu, Kebun Sayur juga menyajikan tomat dan paprika hidroponik. “Tomat yang kami produksi adalah tomat cherry. Pengembangannya tidak di sini, tapi di Batu, Malang,” kata Kemas.

Selain cafe, Kemas berharap, ke depan Kebun Sayur bisa digunakan sebagai tempat kunjungan wisata alternatif anak sekolah, tempat belajar mahasiswa, dan kawasan observasi. “Sekarang sudah ada beberapa mahasiswa magang. Mereka dari fakultas pertanian,” kata Kemas.

“Saya sungguh berharap, orang tak malu bercita-cita jadi petani. Karena dari pertanian kita bisa hidup, baik yang berangkat dari pertanian tradisional atau modern. Termasuk petani sayur hidroponik, maupun organik,” harap Kemas.

Comments

comments

Share:

ARTIKEL PILIHAN LAINNYA

Menuai Kesabaran dari Kue Keranjang
Meriahnya Lomba Makan Kerupuk Pasar Malem Tjap Toenjoengan
Melintas Jembatan Basah