Harus Ada yang Istiqomah untuk Membangun Kultur Literasi

Harus Ada yang Istiqomah untuk Membangun Kultur Literasi

Wina Bojonegoro kembali meluncurkan buku baru, Sabtu (16/12). Kali ini, ia memilih untuk mengkolaborasikan sastra dan seni rupa. “Saya selalu suka mengawinkan sastra dengan seni lain. Pernah dengan foto, tahun lalu dengan china ink. Kemudian dipentaskan berupa tari dan drama,” akunya.

Kolaborasi ini, lanjutnya, semata agar sastra enak dinikmati oleh banyak kalangan. “Karena sesungguhnya dalam karya saya selalu ada kritik-kritik dan pelajaran terselubung,” ujar pemilik Padma Tour ini.

Buku bertajuk ‘Kalih’ yang dilaunching di Festival Literasi Surabaya ini berisi naskah yang belum tayang di media. Cerita dalam Kalih adalah hasil perenungan Wina Bojonegoro dengan banyak hal, termasuk lingkungan sosial dan pengalaman beberapa orang yang ia kenal.

Tentang unsur seni rupa di buku ini, kata Wina, ia memang sengaja melibatkan Yoes Wibowo, suaminya. Secara teknis, Yoes mencoba menginterpretasikan gagasan dan pesan di naskah cerita Wina. Dan bisa ditebak, ini jadi problem tersendiri. “Masalahnya di waktu. Karena kesibukan pak suami,” kata Wina sambil tertawa.

Sepanjang karir sebagai penulis, kurang lebih 29 tahun, Wina dikenal sebagai salah satu penulis paling produktif saat ini. “Seharusnya bisa lebih. Ada banyak novel ngendon di komputer. Tapi alasan klasik, kalah dengan pekerjaan nafkah,” candanya.

Di tengah kesibukannya sebagai seorang istri, ibu, pengusaha, dan penulis, Wina kemudian berinisiatif menggelar Festival Literasi Surabaya. “Surabaya terlalu besar untuk saya renangi sendirian. Dengan tamatnya Kedai Kreasi, saya memikirkan cara membangun literasi. Akhirnya nemu jalan festival ini,” jelasnya.

Untuk mewujudkan mimpi ini ia didukung banyak orang. Meski ia mengaku, menggelar festival yang didesain jadi event tahunan ini ibarat berteriak di ruang sunyi. Namun Wina percaya, untuk proses ini harus ada yang istiqomah.

“Ibarat orang ngemis, saya mesti mengetok dari pintu ke pintu. Hasilnya lumayan untuk hitungan event pertama. Apalagi proses ini jadi ringan saat ada dukungan dari teman-teman yang cinta pada literasi. Insya Allah tahun depan lebih baik,” papar Wina lagi. (foto : dok pribadi)

Comments

comments

Share:

ARTIKEL PILIHAN LAINNYA

Pameran Batik Lukis Andalkan Spontanitas Berbasis Tradisi
Sapa dan Doa dari Patirtan Jolotundo
Ukiran Kayu Rumahan Merambah Amerika dan Eropa