Bak jamur di musim hujan, lembaga bimbingan belajar atau bimbel berseliweran di sekitar kita dengan bandrol harga dan layanan yang beragam. Mulai dari paket ekonomi, hingga yang berharga tinggi. Mulai dari yang menyodorkan konsep biasa saja, hingga yang membawa konsep istimewa.

Di antara bimbel dan lembaga pendidikan non formal, ada Kampoeng Sinaoe di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Lembaga ini mengusung konsep bimbel yang tidak hanya mengedepankan kualitas akademik, melainkan pendidikan berkarakter serta mengasah minat dan bakat anak.

“Pendidikan berkarakter merupakan pondasi penting sebuah bangsa,” ujar Mohammad Zamroni, pendiri Kampoeng Sinaoe. Diakatakan, Kampoeng Sinaoe menawarkan berbagai program pendidikan yang dapat menunjang prestasi anak. Mulai dari belajar Bahasa Inggris, komputer, hingga pelajaran-pelajaran di sekolah.

Tidak berhenti disitu, Kampoeng Sinaoe juga memiliki berbagai macam komunitas yang dapat melatih soft skill sesuai dengan minat dan bakat siswa. Tidak heran jika siswa Kampoeng Sinaoe tidak berbatas di usia sekolah, namun juga berasal dari kalangan mahasiswa serta karyawan.

Beberapa program pembelajaran yang ditawarkan oleh Kampoeng Sinaoe, antara lain Al Falah Islamic Course (FIC) yang memberikan pembelajaran Bahasa Inggris secara intensif, panduan beasiswa dalam dan luar negeri, dan lain-lain. Lalu Lembaga Bimbingan Belajar Visca Aflah (VIA) yang memberikan pembelajaran khusus untuk penguasaan mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional (UN) dan persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan lain-lainya. Kemudian Salam Al Falah (SAF) yang memberikan pembelajaran penguasaan ketrampilan komputer.

Kampoeng Sinaoe digagas oleh Mohammad Zamroni, Sarjana Sastra Inggris UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (dahulu IAIN Malang). Berdiri sejak tahun 2006, Kampoeng Sinaoe berawal dari seringnya Zamroni dimintai tolong untuk membantu menyelesaikan PR anak-anak disekitar rumahnya.

Semula hanya dalam jumlah kecil, kini murid Kampoeng Sinaoe kian bertambah hingga mencapai ratusan. Untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, Zamroni juga menyediakan berbagai buku-buku penunjang. Kampoeng Sinaoe juga dilengkapi dengan perpustakaan, yakni Poestaka Sinaoe dimana semua buku-bukunya merupakan koleksi pribadi Zamroni bersama dengan sang istri, dan beberapa dari donatur.

Lembaga pendidikan ini dibangun di kawasan Jalan KH Khamadani 25, Siwalan Panji, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Satu hal yang menarik, Kampoeng Sinaoe juga mengusung konsep suasana pembelajaran yang hijau. Lihat saja, di tempat ini banyak ditemui gazebo-gazebo yang tebuat dari bambu, yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat belajar.

“Dibilang bimbel, iya. Dibilang pondok pesantren, iya. Dibilang sanggar, iya. Jadi saya sengaja menggabungkan semua unsur didalamnya,” ujar Zamroni.

Hal inilah yang membedakan Kampoeng Sinaoe dengan tempat bimbingan belajar yang lain. Tidak heran jika siswa-siswi Kampoeng Sinaoe betah dan nyaman belajar di sana. Seperti diungkapkan Diva, salah satu siswi. Ia mengaku belajar banyak hal di tempat ini. Mulai dari tanggung jawab, disiplin waktu, hingga dapat menyalurkan hobi.

Ya, di Kampung Sianoe, selain mengasah kemampuan hard skill, namun juga memberi ruang lebih pada soft skill

Mengasah soft skill tidak hanya dilakukan melalui kegiatan yang ada seperti komunitas, melainkan melalui kegiatan sehari-hari yang tentunya dapat melatih kedisiplinan dan tanggung jawab para murid. Hal tersebut dibuktikan dari kegiatan para murid sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar, mereka menyempatkan waktu untuk membersihkan pekarangan, ruang kelas, menyiram tanaman, dan masih banyak lagi. (debora liliana, ananias ayunda)

39,781 total views, 1 views today

Comments

comments